Selasa, 23 Juni 2009

Kagum pada sejarah Paris yang lestari

Ayah saya ketika menyelesaikan tesis masternya di AS mengambil tema Revolusi Prancis yang menunjukkan pergolakan kekuasaan yang panjang dan tentunya meninggalkan jejak-jejak sejarah yang tak lapuk oleh berlalunya zaman.
Selain itu, yang ada di benak saya Prancis adalah kiblat kota mode yang menawarkan berbagai macam keindahan desain pakaian, parfum, dan kecantikan para wanitanya.
Pada sebuah sore di pertengahan 2008, saya menginjakkan kakinya di stasiun kereta Paris setelah menempuh perjalanan selama dua jam menggunakan kereta TGV dari Luksemburg.
Sampai di stasiun saya beserta rombongan langsung berangkat ke hotel Holiday Inn yang bertarif 489 euro per malam...alamak mahalnya.
Setelah mandi, Sholat Dhuhur dan Ashar, kami beserta rombongan berjalan kaki ke Museum Arab..untuk makan malam.
Tempatnya oke untuk makan tetapi ketika saya mencari tempat Sholat tidak ada juga...ya sudah jamak lagi deh. Kok bisa ya museum Arab..tempat Sholatnya tidak ada.
Isang-iseng saya coba minum Lubna Syrup (susu Libanon) yang harganya 6,5 euro dan langsung minta ganti juice karena saya tidak tahan dengan rasa asinnya.
Malam semakin larut dan anggota rombongan berpisah, pasukan wanita (kecuali dua orang) memutuskan untuk kembali ke hotel dan tidur. Saya beserta beberapa teman ditambah memutuskan melanjutkan perjalanan ke Menara Eiffel. Luar biasa keindahan ikon bangunan dari Paris ini dan menunjukkan kehebatan teknologi ketika menara ini dibangun dengan ketinggian dan presisi yang ketat.
Kalau mau membeli suvenir bisa didapatkan dengan murah seharga 5 euro untuk 10 gantungan kunci. Tetapi kalau anda mau lebih murah lagi bisa saja beli dulu di Indonesia...ada beberapa tempat yang menjual dengan harga lokal yang lebih ramah dibandingkan dengan euro.
Sayang, sempat ada sedikit gangguan ketika berjalan-jalan di sekitar menara Eiffel..ada beberapa anak muda yang sedang nongkrong meminta uang..one euro please..Saya jawab..No.
Ketika pulang menunggu taksi..ada rekan jurnalis dari salah satu media nasional yang sempat digoda dan beruntung beberapa teman bertindak sigap mengusir.
Keesokan paginya, perjalanan dilanjutkan dengan mengunjungi museum Louvre. Rombongan terpecah lagi, karena rekan-rekan yang tidur di malam harinya memilih ke Eiffel. Saya beserta beberapa beberapa teman akhirnya memilih ke Louvre untuk melihat lukisan Monalisa.
Sayang waktu yang sempit membuat kita memutuskan untuk tidak jadi masuk ke museum karena harus segera bertemu direksi ArcelorMittal di salah satu restoran di Paris.

Jumat, 05 Juni 2009

Menikmati pertandingan di Emirates Cup

Berkunjung ke London untuk menyaksikan pertandingan sepakbola yang bermutu tentu menjadi impian banyak orang.
Kami sempat diundang oleh Emirates Airlines untuk menyaksikan keindahan London dan menyaksikan Emirates Cup yang mempertemukan empat tim tangguh yaitu tuan rumah Arsenal, Inter Milan, Paris Saints-Germaint dan Valencia.
Yang menarik, dalam pertandingan bola yang dilakukan di Emirates Stadium kehadiran satu keluarga bapak, anak, bahkan sampai nenek-nenek pun menikmati tontonan bola.
Tampak jelas ritual menonton bola sudah menjadi alternatif wisata keluarga.
Stadium Emirates didesain cukup nyaman bagi para penonton dengan tempat duduk kulit berwarna merah yang mudah dibersihkan. Selain itu, tersedia Diamond Club bagi penonton kelas eksekutif. Jangan lupa harga tiket terusan untuk masuk ke Diamond Club cukup oke juga mencapai 100.000 poundsterling untuk satu musim liga dan harus dipesan sejak awal musim. Itu di luar konteks kalau ada pertandingan piala Champions, UEFA maupun pertandingan internasional lainnnya.
Menonton bola tanpa khawatir dengan kerusuhan menjadikan wisata bola ini menarik minat keluarga. Ketika masa jeda pertandingan, penonton keluar sejenak ke lokasi penjual makanan yang ada dalam lokasi stadion untuk membeli makanan dan minuman yang dijual.
Dengan 2,5-3 pounsterling anda bisa mendapatkan satu potong hotdog atau burger plus minuman dengan harga sekitar 1,5-2 poundsterling. Nah semoga kenikmatan semacam ini bisa juga berlaku di Indonesia...asalkan harganya jangan semahal di London.