Kamis, 01 Oktober 2009

Mencoba masuk ke Louvre




Sebuah cerita lucu muncul dari kunjungan ke Eropa. Ketika berkunjung ke Paris, waktu luang yang ada meskipun sedikit sekali dimanfaatkan untuk menikmati keindahan kota yang dipenuhi oleh bangunan tua dan bersejarah.
Salah satu tempat yang sempat dikunjungi adalah Museum Louvre yang menyimpan lukisan Mona Lisa dan sempat menjadi lokasi syuting Da Vinci Code.
Nah, menariknya kartu pers bisa menjadi pas masuk ke Museum Louvre yang harganya 9 euro. Lumayan kan untuk menghemat. Sehingga ada empat wartawan dari beberapa koran di Tanah Air yang menunjukkan kartu pers untuk masuk ke Museum Louvre.

Negosiasi berhasil dan para wartawan dipersilahkan masuk. Naas, ada satu wartawan yang lupa membawa kartu pers dan ketika dihadang dipintu masuk langsung meminjam kartu pers temannya. Alhasil, semua wartawan diusir saja. Salah satu wartawan yang hadir menyampaikan.”Seharusnya kita patungan saja beli tiket untuk yang ndak bawa tiket.”
Kasihan deh.

Selasa, 23 Juni 2009

Kagum pada sejarah Paris yang lestari

Ayah saya ketika menyelesaikan tesis masternya di AS mengambil tema Revolusi Prancis yang menunjukkan pergolakan kekuasaan yang panjang dan tentunya meninggalkan jejak-jejak sejarah yang tak lapuk oleh berlalunya zaman.
Selain itu, yang ada di benak saya Prancis adalah kiblat kota mode yang menawarkan berbagai macam keindahan desain pakaian, parfum, dan kecantikan para wanitanya.
Pada sebuah sore di pertengahan 2008, saya menginjakkan kakinya di stasiun kereta Paris setelah menempuh perjalanan selama dua jam menggunakan kereta TGV dari Luksemburg.
Sampai di stasiun saya beserta rombongan langsung berangkat ke hotel Holiday Inn yang bertarif 489 euro per malam...alamak mahalnya.
Setelah mandi, Sholat Dhuhur dan Ashar, kami beserta rombongan berjalan kaki ke Museum Arab..untuk makan malam.
Tempatnya oke untuk makan tetapi ketika saya mencari tempat Sholat tidak ada juga...ya sudah jamak lagi deh. Kok bisa ya museum Arab..tempat Sholatnya tidak ada.
Isang-iseng saya coba minum Lubna Syrup (susu Libanon) yang harganya 6,5 euro dan langsung minta ganti juice karena saya tidak tahan dengan rasa asinnya.
Malam semakin larut dan anggota rombongan berpisah, pasukan wanita (kecuali dua orang) memutuskan untuk kembali ke hotel dan tidur. Saya beserta beberapa teman ditambah memutuskan melanjutkan perjalanan ke Menara Eiffel. Luar biasa keindahan ikon bangunan dari Paris ini dan menunjukkan kehebatan teknologi ketika menara ini dibangun dengan ketinggian dan presisi yang ketat.
Kalau mau membeli suvenir bisa didapatkan dengan murah seharga 5 euro untuk 10 gantungan kunci. Tetapi kalau anda mau lebih murah lagi bisa saja beli dulu di Indonesia...ada beberapa tempat yang menjual dengan harga lokal yang lebih ramah dibandingkan dengan euro.
Sayang, sempat ada sedikit gangguan ketika berjalan-jalan di sekitar menara Eiffel..ada beberapa anak muda yang sedang nongkrong meminta uang..one euro please..Saya jawab..No.
Ketika pulang menunggu taksi..ada rekan jurnalis dari salah satu media nasional yang sempat digoda dan beruntung beberapa teman bertindak sigap mengusir.
Keesokan paginya, perjalanan dilanjutkan dengan mengunjungi museum Louvre. Rombongan terpecah lagi, karena rekan-rekan yang tidur di malam harinya memilih ke Eiffel. Saya beserta beberapa beberapa teman akhirnya memilih ke Louvre untuk melihat lukisan Monalisa.
Sayang waktu yang sempit membuat kita memutuskan untuk tidak jadi masuk ke museum karena harus segera bertemu direksi ArcelorMittal di salah satu restoran di Paris.

Jumat, 05 Juni 2009

Menikmati pertandingan di Emirates Cup

Berkunjung ke London untuk menyaksikan pertandingan sepakbola yang bermutu tentu menjadi impian banyak orang.
Kami sempat diundang oleh Emirates Airlines untuk menyaksikan keindahan London dan menyaksikan Emirates Cup yang mempertemukan empat tim tangguh yaitu tuan rumah Arsenal, Inter Milan, Paris Saints-Germaint dan Valencia.
Yang menarik, dalam pertandingan bola yang dilakukan di Emirates Stadium kehadiran satu keluarga bapak, anak, bahkan sampai nenek-nenek pun menikmati tontonan bola.
Tampak jelas ritual menonton bola sudah menjadi alternatif wisata keluarga.
Stadium Emirates didesain cukup nyaman bagi para penonton dengan tempat duduk kulit berwarna merah yang mudah dibersihkan. Selain itu, tersedia Diamond Club bagi penonton kelas eksekutif. Jangan lupa harga tiket terusan untuk masuk ke Diamond Club cukup oke juga mencapai 100.000 poundsterling untuk satu musim liga dan harus dipesan sejak awal musim. Itu di luar konteks kalau ada pertandingan piala Champions, UEFA maupun pertandingan internasional lainnnya.
Menonton bola tanpa khawatir dengan kerusuhan menjadikan wisata bola ini menarik minat keluarga. Ketika masa jeda pertandingan, penonton keluar sejenak ke lokasi penjual makanan yang ada dalam lokasi stadion untuk membeli makanan dan minuman yang dijual.
Dengan 2,5-3 pounsterling anda bisa mendapatkan satu potong hotdog atau burger plus minuman dengan harga sekitar 1,5-2 poundsterling. Nah semoga kenikmatan semacam ini bisa juga berlaku di Indonesia...asalkan harganya jangan semahal di London.

Jumat, 22 Mei 2009

Singapura yang teratur

Singapura sebuah kota negara kota yang penuh dengan orang Indonesia ketika musim liburan selesai. Maklumlah, jarak yang dekat, hanya penerbangan 1 jam 10 menit dari Jakarta membuat banyak orang yang menyempatkan liburan ke negara kota tersebut.
Saya sempat juga merasakan pergi ke Singapura dalam tempo hanya 15 jam, pagi berangkat..malam pulang ke Jakarta ketika menghadiri seminar di Singapore Stock Exchange.
Penulis juga pernah liputan selama satu pekan di Singapura dan menginap di Hotel Peninsula dekat City Hall MRT Station. Maklum liputan acara Asian Banker Summit yang berlokasi di Suntec City. Selama hampir lima hari, berangkat dari Peninsula jalan kaki melalui Raffles City dan sampai ke Suntec City. Namun, pada hari terakhir saya baru tahu ada jalur pejalan kaki bawah tanah yang dilengkapi dengan pertokoan di samping kanan dan kiri yang menghubungkan City Hall MRT Station dengan Suntec City. Kesal juga, kenapa tidak bertanya-tanya dulu..malu bertanya..jalan-jalan.
Jangan lupa kalau mau sholat ada juga masjid yang lokasinya dekat Orchad Road yaitu Masjid Al Falah yang terletal di seberang hotel Meritus Mandarin. Kalau sedang berada di kawasan CitiHall bisa sholat di mesjid di kawasan Litle India
Sebenarnya tidak ada sesuatu yang istimewa untuk ditawarkan oleh Singapura. Tetapi, jumlah wisatawan yang datang ke negara kota tersebut cukup besar.
Maklumlah keteraturan, pelayanan kesehatan, urusan bisnis, sampai dengan belanja banyak dilakukan di negara ini. Setelah menikmati ruwetnya lalu lintas Jakarta (yang semoga akan terurai setelah adanya transportasi gabungan MRT dan Busway)
Nah bercerita tentang belanja, saya rasa supermarket OG yang terletak di penghujung Orchad Road menawarkan barang bermerek dengan harga yang lebih miring dibandingkan dengan Takashimaya, Tang Plaza, Nge Ann City dan sederet pusat perbelanjaan lainnya.
Bagi pengunjung yang sedang kepingin makan Indonesia..wuihh berjibun..tempatnya. Tetapi di gedung Lucky Plaza, lantai 3 ada tempat makan enak buat orang Indonesia yaitu tempet penyet, ayam penyet..dan semua serba penyet. Meskipun ada juga rawon. Itu kalau lagi bosen sama masakan India, Melayu, atau China.
Mengenai makanan khas Singapura, mudah ditemui di berbagai tempat dengan harga relatif terjangkau seperti Laksa Singapura yang terdiri dari bihun berdiameter besar, udang kupas besar, dan fish cake (S$5-S$14), kwetiau goreng (sekitar S$5), ayam Hainan (S$6-S$12), Mi Hokian (S$5-S$12). Tidak ketinggalan kue lobak dan rujak Singapura.
Kalau mau makanan India, ada kari (yang kuat bumbunya), roti pratha, roti canai, teh tarik, dan banyak lagi jenis makanan lain
Kalau beli oleh-oleh seperti coklat dan permen ya jelas lebih murah di Bangunan Mustafa. Tetapi kalau tidak sempat ya beli di Changi saja yang branded dan jelas lebih enak tetapi harganya lebih mahal.
Kalau parfum mah, saya cenderung beli di Airport Changi karena bisa ditenteng masuk pesawat, kuatir saja kalau masuk bagasi bisa lenyap barang itu begitu sampai di Jakarta.
Jadi kalau mau belanja di Singapura yang branded saja...kalau tidak, rugi mending belanja di Jakarta seperti Pasar Tanah Abang atau ITC Cempaka Mas untuk produk tekstil dan tas. Nah, kalau beli Louis Vuitton, Dolce Gabbana, Cartier, dan merek lain memang lebih murah harganya. Secara umum, barang elektronika dan kamera juga masih lebih murah di Glodok dibandingkan dengan Singapura.

Arus wisata

Arus kunjungan turis ke Singapura selama Maret lalu tercatat 790.000 orang atau turun 13,2% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.
Berdasarkan negara asal turis, 12 dari 15 negara yang tercatat sebagai pengunjung utama ke Singapura menunjukkan penurunan kunjungan.
Jumlah warga negara Indonesia yang selalu tercatat sebagai pengunjung terbesar ke Negeri Singa itu seperti dikutip dari Singapore Tourism Board, turun 17% menjadi 128.000 orang dibandingkan dengan kunjungan periode Maret tahun lalu.
Pada bulan sebelumnya, arus kunjungan turis ke Singapura tercatat 689.000 orang atau menurun cukup signifikan yakni 15,2% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu 811.000.
Warga negara Indonesia yang selama ini tercatat sebagai pengunjung utama ke Singapura selama Februari lalu tercatat 103.000 orang atau turun 17% dibandingkan dengan Februari 2008.

Senin, 18 Mei 2009

Tepian Elbe yang memesona

Menikmati keindahan sungai di Eropa tak ayal lagi membuat kita merasa iri dengan keberhasilan mereka mengelola wisata sungai.
Ketika mengunjungi sejumlah pabrik ArcelorMittal di Eropa belum lama ini, saya berkesempatan mengunjungi Hamburg.
Hamburg terletak antara pertemuan sungai Elbe dan Danau Alster yang merupakan kota pelabuhan dan kota perdagangan tertua di Jerman dengan nama Hammaburg pada 834 Masehi.
Setelah melakukan plant tour di Ghent, Belgia, saya beserta rombongan langsung bergerak ke Hamburg. Ketika malam harinya memasuki Hamburg dan menginap di Hotel Golden Tulip yang berada di tepian sungai Elbe, saya langsung merebahkan badan di kamar karena harus bersiap untuk perjalanan ke pabrik berikutnya.
Sebenarnya sempat muncul niat untuk jalan malam ke pusat kota Hamburg, tetapi mengingat kondisi fisik sebagian besar rombongan yang sudah kelelahan, akhirnya semua anggota memilih untuk istirahat di kamar masing-masing.
Namun, ketika bangun untuk Salat Subuh, baru terlihat indahnya tepian sungai Elbe yang terletak di distrik Finkenwerder. Sayangnya, keindahan ini tidak bisa dinikmati sepuasnya karena setelah sarapan pagi, rombongan harus berangkat menuju pabrik ArcelorMittal dan berdialog dengan jajaran manajemennya.
Beruntung ada waktu setelah makan siang yang bisa dimanfaatkan untuk menikmati keindahan tepian Sungai Elbe. Selama 2 jam, rombongan menikmati keindahan tepian Sungai Elbe dengan kapal sewa. Sambil mendengar penjelasan dari pemandu, tersedia juga minuman ringan yang bisa dinikmati oleh anggota rombongan.
Soal minuman sudah pasti di Jerman tersedia bir, maklum masyarakatnya terkenal sebagai penikmat bir kelas wahid di dunia. Namun, saya lebih memilih minuman yang lebih ringan dan tidak mengandung alkohol supaya bisa lebih menikmati keindahan tepian Sungai Elbe yang menawan.
Maklum ketika makan siang, saya sempat menyaksikan kelompok orang tua Jerman yang menikmati bir dengan jumlah melampui satu liter untuk setiap orangnya. Padahal, mereka baru saja menikmati makan siang dengan jumlah yang cukup banyak.
Rumah mewah
Ternyata di seberang tepian Elbe terdapat juga deretan rumah mewah yang sangat menarik dipandang mengingat arsitekturnya yang bagus. General Manager Corporate Communication ArcelorMittal Haroon Hasan mengaku menikmati deretan rumah mewah yang ada di tepian Elbe.
"Harganya pasti mahal, kalau dikurs dalam rupiah bisa mencapai puluhan miliar. Saya tidak tahu kapan bisa memiliki rumah semacam itu."
Selain kanal yang terlihat tertata rapi, terlihat juga sejumlah galangan kapal, fasilitas bursa cokelat sampai dengan taman-taman yang tertata dengan rapi.
Saya sempat juga melihat pasawat Airbus Beluga melintas yang desainnya mirip dengan ikan paus Beluga. Maklum lokasi hotel terletak berdekatan dengan Airbus Work Hamburg. Sayangnya saya tidak sempat mengambil gambar karena memerlukan waktu untuk menyiapkan kamera.
Berapa harga yang harus dibayar untuk menikmati tepian sungai Elbe? Kalau melalui angkutan umum kapal harga tiket berkisar 1,5 euro sampai 5 euro, bergantung pada jarak. Sedangkan jika menyewa kapal dengan kapasitas sampai 20 orang biayanya bisa mencapai 200 euro untuk menikmari keindahan tepi sungai Elbe.
Hamburg didesain memiliki sistem transportasi kapal yang bisa dinikmati oleh wisatawan atau penduduk. Kapal singgah di sejumlah dermaga sehingga bisa menjadi sarana transportasi umum. Namun, banyak pula penduduk Hamburg yang mempergunakan sarana ini untuk sekadar melepas penat untuk berwisata dengan kapal laut sambil bertemu dengan teman-teman mereka. Daerah wisata atau lebih tepatnya dermaga ini dinamakan Landungsbrueken yang terdapat kedai kopi, kios penjual makanan dan suvenir.

Dermaga ini menghubungkan para pengunjung ke distrik lainnya seperti Finkenwerder, Oevelgoenne, dan Blankenesse menggunakan kapal feri yang tiketnya menyatu dengan tiket bus dan alat transportasi lainnya, seperti kereta baik U-Bahn (kereta bawah tanah) dan S-Bahn (kereta yang lebih besar) dengan fungsi yang berbeda.
-Bahn membelah jantung Kota Hamburg, dilengkapi dengan kode-kode seperti U1, U2 dan U3, sedangkan, S-Bahn melingkari Kota Hamburg sampai ke pinggiran kota dengan jarak tempuhnya agak jauh. Pada titik tertentu, jalur S-Bahn akan bertemu dengan jalur U-Bahn dan berhenti di sebuah stasiun besar yang bernama Houfbahnhoff Sud. Para penumpang yang akan melanjutkan perjalanan keluar Hamburg akan berganti dengan kereta api luar kota yang disebut IC (InterCity)dan ICE (Inter City Express).
Tatanan Hamburg cukup apik dan menarik bagi setiap orang yang memandang. Apalagi bangunan tua dan modern yang penuh nilai historis masih berdiri kokoh sehingga Hamburg mempunyai pesona tersendiri sebagai salah satu kota objek wisata, khususnya di kawasan Eropa-Jerman.

Menikmati romantisme negeri Herge

Ingat Tintin, tentu ingat dengan Herge. Ingat Herge tentu ingat Belgia. Berkunjung ke Belgia tentu ingat juga dengan cokelat dan wafel yang terkenal lezat.
Dalam kunjungan ke sejumlah pabrik milik ArcelorMittal di sejumlah negara di kawasan Eropa, saya sempat menikmati sejenak keindahan Kota Ghent, Belgia.
Setelah menempuh perjalanan selama 16 jam yang menghubungkan Jakarta-Singapura-London-Paris, saya melanjutkan perjalanan dengan naik kereta TGV dari Paris ke Brussel.
Dari Brussel, perjalanan dilanjutkan dengan naik bus selama sekitar satu jam melewati jalan tol dan daerah perkotaan Ghent membuat mata selalu memandang keluar menikmati keindahan yang diciptakan manusia berabad-abad yang lalu dan terus dipertahankan sampai saat ini.
Ketika masuk ke hotel JW Marriot di Ghent, saya sempat terheran-heran dengan pemilihan lokasi hotelnya yang terkesan tersembunyi di sudut jalan yang sempit dan bahkan tidak menyisakan lokasi parkir yang memadai.
Namun, begitu keluar dari hotel dan berjalan ke belakang hotel, barulah terlihat keindahan Kanal Korenlei Ghent yang menebarkan romantisme kota tua. Ternyata hotel tersebut mempunyai alasan kuat untuk memilih lokasi yang tersembunyi.
Sayangnya, karena sampai pada Minggu sore, banyak toko yang menjual suvenir dan coklat sedang tutup. Padahal, melihat suvenir dan cokelat yang terpajang membuat pengunjung pasti tergiur meskipun harganya dalam satuan euro. Jika dikurs dalam rupiah, satu euro setara Rp14.500.
Alhasil, pilihan berjalan kaki ketika sore dan malam menjadi pilihan meskipun badan sebenarnya masih terasa letih. Maklum, besok paginya rombongan harus segera meninggalkan hotel menuju pabrik baja paling modern milik ArcelorMittal di Ghent dan kemudian sorenya harus terbang ke Hamburg, Jerman.
Sepanjang mata memandang di kawasan Korenlei dipenuhi oleh bangunan tua dan restoran yang menawarkan masakan dan minuman yang dibalut suasana romantis.
Seorang rekan sampai membayangkan begitu romantisnya kalau bisa mengajak istrinya ke lokasi ini sambil mengulang kenangan indah ketika dulu berpacaran.
Kanal yang tertata rapi yang dilengkapi dengan kapal pesiar di sepanjang kanal ditambah dengan bau sedap makanan yang menguatkan aroma romantis. Bayangkan, Jakarta tempo dulu ketika zaman penjajahan Belanda yang didesain dengan kanal dan dipenuhi bangunan tua.
Trotoar yang lapang sepanjang waterway menggambarkan periode panjang pembangunan Ghent. Semua bisa dinikmati melalui kapal atau berjalan kaki. Selain itu, terdapat trem yang dioperasikan oleh De Lijn yang menghubungkan Korenlei dengan berbagai pelosok.
Jangan lupa, Ghent menawarkan 18 museum, 100 gereja, dan sekitar 400 bangunan tua yang bisa dinikmati oleh pengunjungnya.
Keinginan berburu cokelat sebenarnya sudah muncul sejak di Jakarta. Ketika dalam perjalanan dari Brussel menuju Ghent, terlihat pabrik cokelat Godiva dan dilengkapi juga dengan pusat penjualan. Sayang, tokonya masih tutup sehingga keinginan membeli cokelat harus direalisasikan di bandara Brussel. Yang jelas, harga satu kotak cokelat seberat 250 gram berkisar 12 euro sampai 15 euro.
Seorang teman memberi info batangan cokelat Belgia yang bisa dinikmati dengan dicemplungkan ke dalam susu panas. Ketika di bandara brussel, saya sempat bertanya kepada salah satu pelayan duty free shop yang menjual berbagai macam coklat. Dia menunjukkan satu merek coklat Belgia yang bergambar gajah. Bahkan kalau mau yang berlabel koleksi, bisa membeli cokelat yang dikemas dalam kaleng bergambar Tintin.
Jangan lupa, Belgia juga dikenal sebagai penghasil kue wafel yang lezat dimakan dengan sirup maple ditambah gula palem.
Sayangnya, makanan jenis ini hanya bisa dimakan di tempat, bukan untuk oleh-oleh. Yang jelas ketika saya mencoba sarapan wafel, rasanya uenakkk tenann. Memang beda sentuhan tangan orang Belgia dalam memasak wafel. Tetapi harganya muahalll, 30 euro...untung sudah masuk dalam paket sarapan pagi.

Menikmati Dubai yang tumbuh




London dan Dubai adalah dua kota yang berbeda 180 derajat. Di London banyak pemandangan kota tua yang dipenuhi bangunan bersejarah, sedangkan di Dubai terlihat pemandangan kota masa depan.
Akhir Agustus, saya mendarat di Dubai Internasional Airport pukul 01.00 pagi waktu Dubai setelah merasakan kenyamanan kelas Bisnis di Emirates Airlines.
Cuaca pagi terasa menyengat kulit, maklum panasnya angin gurun masih terasa. Ketika di Dubai Internasional Airport seorang rekan wartawan sempat ketinggalan kamera di musala. Beruntung barang berharga tersebut tidak hilang meskipun sempat ditinggal lebih dari 15 menit. Kebijakan keras dari Pemerintah Dubai yang menindak tegas setiap pelanggaran hukum dan mendeportasi setiap warga negara asing yang melanggar hukum menimbulkan suasana aman. Berdasarkan sensus 2005, jumlah penduduk asli hanya 24,6% dan selebihnya adalah warga negara asing (ekspatriat), terutama dari India, Pakistan, Iran, Bangladesh, Sri Lanka, Filipina, Mesir, Palestina, dan Syria.
Siang hari ketika saya berkunjung ke markas besar Emirates Airlines di pusat kota, segera terlihat pemandangan mengagumkan di sepanjang jalan. Semua sumber daya properti terbaik di dunia berada di kota ini untuk mengerjakan proyek-proyek prestisius.
Miliaran dolar AS dikucurkan untuk menarik ahli konstruksi terbaik di dunia dalam mewujudkan proyek-proyek yang prestisius. Iseng-iseng saya mencoba menghitung jumlah bangunan yang sedang dibangun di sepanjang jalan antarhotel ke pusat kota yang berjarak sekitar 20 km. Namun, ketika hitungan mencapai angka 50, proses ini saya hentikan dengan satu kesimpulan: ratusan gedung sedang dibangun di Dubai.


Sebenarnya secara alamiah sangat sedikit yang bisa ditawarkan Dubai kepada para pengunjungnya. Namun, dengan kekayaan minyak yang dimiliki oleh Uni Emirat Arab menyebabkan negara tersebut memiliki uang yang diinvestasikan untuk menjadikan kota ini sebagai pusat pengembangan properti maupun pusat keuangan dunia.
Business Bay (kawasan bisnis), Dubailand (pusat perbelanjaan, hiburan, dan hunian yang menelan dana US$5miliar), gedung Burj Dubai (gedung tertinggi di dunia dengan ketinggian lebih dari 700 meter senilai US$900 juta).
Selain itu, telah dibangun Arabian Canal yang merupakan sungai buatan sepanjang 75 km yang pinggirannya mulai dipenuhi dengan hotel, perkantoran, kawasan hiburan.
Terdapat lima proyek reklamasi laut lepas pantai seluas 170 juta meter persegi dengan nilai proyek lebih dari US$10 miliar. Lima kawasan yang telah dan sedang dikembangkan yaitu Dubai Waterfront, Palm Jebel Ali, Palm Jumaeirah, The World dan Palm Deira yang akan menyediakan 400.000 bangunan dalam bentuk hotel, perkantoran ataupun perumahan dan pusat perbelanjaan. Saat ini sebagian bangunan tersebut sudah selesai pembangunannya
Saat ini juga sedang berlangsung proyek pembangunan perkampungan satelit di lepas pantai Dubai dengan biaya mencapai US$20 miliar. Proyek di Teluk Nakheel bernilai US$25 miliar, proyek bandara Internasional Jebel Ali bernilai US$10 miliar, proyek perluasan Dubai Internasional Airport bernilai US$5 miliar yang sampai saat ini masih terus berlangsung.
Dubai juga sedang mengembangkan sarana transportasi masal untuk menambah kenyamaman penduduknya. Saat ini proyek monorel senilai US$390 juta sedang dikembangkan dan direncanakan beroperasi pada akhir 2008. Selain itu terdapat water way yang dijadwalkan beroperasi bulan ini.
Monorel ini menghubungkan Palm Jumeirah, Dubai International Financial Centre dan City of Arabia at Dubailand. Selain itu monorel ini menghubungkan Dubai Waterfront, Burj Dubai complex, The Palm Deira dan Dubai Festival City.
Kebijakan Pemerintah Dubai yang memperbolehkan orang asing membeli rumah dan apartemen dengan tingkat kepemilikan 100% mengundang orang penting di dunia memiliki properti di negara ini. Sebutlah Roger Federer, David Beckham yang disebut memiliki properti di Dubai.
Arabian Adventures
Mengunjungi Kota Dubai tidak lengkap tanpa menikmati suasana khas gurun pasir yang tandus, menyeramkan tetapi menawarkan suasana eksotis tersendiri. Menikmati off-road di gurun pasir sekaligus makan malam di tengah-tengah lautan padang pasir banyak menjadi pilihan para wisatawan.
Apalagi suguhan ini ditambah dengan sajian tari perut yang atraktif, sehingga mengundang penonton untuk ikut menggoyang perutnya. Namun, paket wisata ini cakup mahal karena ditawarkan dengan harga sekitar 240 dirham sampai 300 dirham (saat ini kurs US$1 setara dengan 3,6 dirham).
Saya sempat menikmati trip off-road di gurun yang mengocok perut dengan menaiki mobil yang didesain khusus untuk berkendara di gurun. Namun, hati-hati dengan keberadaan binatang padang pasir seperti ular yang terkadang muncul tiba-tiba. Maklumlah sekali dipatuk ular gurun dijamin selamat tinggal dunia.