Ingat Tintin, tentu ingat dengan Herge. Ingat Herge tentu ingat Belgia. Berkunjung ke Belgia tentu ingat juga dengan cokelat dan wafel yang terkenal lezat.
Dalam kunjungan ke sejumlah pabrik milik ArcelorMittal di sejumlah negara di kawasan Eropa, saya sempat menikmati sejenak keindahan Kota Ghent, Belgia.
Setelah menempuh perjalanan selama 16 jam yang menghubungkan Jakarta-Singapura-London-Paris, saya melanjutkan perjalanan dengan naik kereta TGV dari Paris ke Brussel.
Dari Brussel, perjalanan dilanjutkan dengan naik bus selama sekitar satu jam melewati jalan tol dan daerah perkotaan Ghent membuat mata selalu memandang keluar menikmati keindahan yang diciptakan manusia berabad-abad yang lalu dan terus dipertahankan sampai saat ini.
Ketika masuk ke hotel JW Marriot di Ghent, saya sempat terheran-heran dengan pemilihan lokasi hotelnya yang terkesan tersembunyi di sudut jalan yang sempit dan bahkan tidak menyisakan lokasi parkir yang memadai.
Namun, begitu keluar dari hotel dan berjalan ke belakang hotel, barulah terlihat keindahan Kanal Korenlei Ghent yang menebarkan romantisme kota tua. Ternyata hotel tersebut mempunyai alasan kuat untuk memilih lokasi yang tersembunyi.
Sayangnya, karena sampai pada Minggu sore, banyak toko yang menjual suvenir dan coklat sedang tutup. Padahal, melihat suvenir dan cokelat yang terpajang membuat pengunjung pasti tergiur meskipun harganya dalam satuan euro. Jika dikurs dalam rupiah, satu euro setara Rp14.500.
Alhasil, pilihan berjalan kaki ketika sore dan malam menjadi pilihan meskipun badan sebenarnya masih terasa letih. Maklum, besok paginya rombongan harus segera meninggalkan hotel menuju pabrik baja paling modern milik ArcelorMittal di Ghent dan kemudian sorenya harus terbang ke Hamburg, Jerman.
Sepanjang mata memandang di kawasan Korenlei dipenuhi oleh bangunan tua dan restoran yang menawarkan masakan dan minuman yang dibalut suasana romantis.
Seorang rekan sampai membayangkan begitu romantisnya kalau bisa mengajak istrinya ke lokasi ini sambil mengulang kenangan indah ketika dulu berpacaran.
Kanal yang tertata rapi yang dilengkapi dengan kapal pesiar di sepanjang kanal ditambah dengan bau sedap makanan yang menguatkan aroma romantis. Bayangkan, Jakarta tempo dulu ketika zaman penjajahan Belanda yang didesain dengan kanal dan dipenuhi bangunan tua.
Trotoar yang lapang sepanjang waterway menggambarkan periode panjang pembangunan Ghent. Semua bisa dinikmati melalui kapal atau berjalan kaki. Selain itu, terdapat trem yang dioperasikan oleh De Lijn yang menghubungkan Korenlei dengan berbagai pelosok.
Jangan lupa, Ghent menawarkan 18 museum, 100 gereja, dan sekitar 400 bangunan tua yang bisa dinikmati oleh pengunjungnya.
Dalam kunjungan ke sejumlah pabrik milik ArcelorMittal di sejumlah negara di kawasan Eropa, saya sempat menikmati sejenak keindahan Kota Ghent, Belgia.
Setelah menempuh perjalanan selama 16 jam yang menghubungkan Jakarta-Singapura-London-Paris, saya melanjutkan perjalanan dengan naik kereta TGV dari Paris ke Brussel.
Dari Brussel, perjalanan dilanjutkan dengan naik bus selama sekitar satu jam melewati jalan tol dan daerah perkotaan Ghent membuat mata selalu memandang keluar menikmati keindahan yang diciptakan manusia berabad-abad yang lalu dan terus dipertahankan sampai saat ini.
Ketika masuk ke hotel JW Marriot di Ghent, saya sempat terheran-heran dengan pemilihan lokasi hotelnya yang terkesan tersembunyi di sudut jalan yang sempit dan bahkan tidak menyisakan lokasi parkir yang memadai.
Namun, begitu keluar dari hotel dan berjalan ke belakang hotel, barulah terlihat keindahan Kanal Korenlei Ghent yang menebarkan romantisme kota tua. Ternyata hotel tersebut mempunyai alasan kuat untuk memilih lokasi yang tersembunyi.
Sayangnya, karena sampai pada Minggu sore, banyak toko yang menjual suvenir dan coklat sedang tutup. Padahal, melihat suvenir dan cokelat yang terpajang membuat pengunjung pasti tergiur meskipun harganya dalam satuan euro. Jika dikurs dalam rupiah, satu euro setara Rp14.500.
Alhasil, pilihan berjalan kaki ketika sore dan malam menjadi pilihan meskipun badan sebenarnya masih terasa letih. Maklum, besok paginya rombongan harus segera meninggalkan hotel menuju pabrik baja paling modern milik ArcelorMittal di Ghent dan kemudian sorenya harus terbang ke Hamburg, Jerman.
Sepanjang mata memandang di kawasan Korenlei dipenuhi oleh bangunan tua dan restoran yang menawarkan masakan dan minuman yang dibalut suasana romantis.
Seorang rekan sampai membayangkan begitu romantisnya kalau bisa mengajak istrinya ke lokasi ini sambil mengulang kenangan indah ketika dulu berpacaran.
Kanal yang tertata rapi yang dilengkapi dengan kapal pesiar di sepanjang kanal ditambah dengan bau sedap makanan yang menguatkan aroma romantis. Bayangkan, Jakarta tempo dulu ketika zaman penjajahan Belanda yang didesain dengan kanal dan dipenuhi bangunan tua.
Trotoar yang lapang sepanjang waterway menggambarkan periode panjang pembangunan Ghent. Semua bisa dinikmati melalui kapal atau berjalan kaki. Selain itu, terdapat trem yang dioperasikan oleh De Lijn yang menghubungkan Korenlei dengan berbagai pelosok.
Jangan lupa, Ghent menawarkan 18 museum, 100 gereja, dan sekitar 400 bangunan tua yang bisa dinikmati oleh pengunjungnya.
Keinginan berburu cokelat sebenarnya sudah muncul sejak di Jakarta. Ketika dalam perjalanan dari Brussel menuju Ghent, terlihat pabrik cokelat Godiva dan dilengkapi juga dengan pusat penjualan. Sayang, tokonya masih tutup sehingga keinginan membeli cokelat harus direalisasikan di bandara Brussel. Yang jelas, harga satu kotak cokelat seberat 250 gram berkisar 12 euro sampai 15 euro.Seorang teman memberi info batangan cokelat Belgia yang bisa dinikmati dengan dicemplungkan ke dalam susu panas. Ketika di bandara brussel, saya sempat bertanya kepada salah satu pelayan duty free shop yang menjual berbagai macam coklat. Dia menunjukkan satu merek coklat Belgia yang bergambar gajah. Bahkan kalau mau yang berlabel koleksi, bisa membeli cokelat yang dikemas dalam kaleng bergambar Tintin.
Jangan lupa, Belgia juga dikenal sebagai penghasil kue wafel yang lezat dimakan dengan sirup maple ditambah gula palem.
Sayangnya, makanan jenis ini hanya bisa dimakan di tempat, bukan untuk oleh-oleh. Yang jelas ketika saya mencoba sarapan wafel, rasanya uenakkk tenann. Memang beda sentuhan tangan orang Belgia dalam memasak wafel. Tetapi harganya muahalll, 30 euro...untung sudah masuk dalam paket sarapan pagi.
udah Bos, jangan banyak incip-incip. ingat tuh badan udah banyak kolesterolnya.
BalasHapus