Singapura sebuah kota negara kota yang penuh dengan orang Indonesia ketika musim liburan selesai. Maklumlah, jarak yang dekat, hanya penerbangan 1 jam 10 menit dari Jakarta membuat banyak orang yang menyempatkan liburan ke negara kota tersebut.
Saya sempat juga merasakan pergi ke Singapura dalam tempo hanya 15 jam, pagi berangkat..malam pulang ke Jakarta ketika menghadiri seminar di Singapore Stock Exchange.
Penulis juga pernah liputan selama satu pekan di Singapura dan menginap di Hotel Peninsula dekat City Hall MRT Station. Maklum liputan acara Asian Banker Summit yang berlokasi di Suntec City. Selama hampir lima hari, berangkat dari Peninsula jalan kaki melalui Raffles City dan sampai ke Suntec City. Namun, pada hari terakhir saya baru tahu ada jalur pejalan kaki bawah tanah yang dilengkapi dengan pertokoan di samping kanan dan kiri yang menghubungkan City Hall MRT Station dengan Suntec City. Kesal juga, kenapa tidak bertanya-tanya dulu..malu bertanya..jalan-jalan.
Jangan lupa kalau mau sholat ada juga masjid yang lokasinya dekat Orchad Road yaitu Masjid Al Falah yang terletal di seberang hotel Meritus Mandarin. Kalau sedang berada di kawasan CitiHall bisa sholat di mesjid di kawasan Litle India
Sebenarnya tidak ada sesuatu yang istimewa untuk ditawarkan oleh Singapura. Tetapi, jumlah wisatawan yang datang ke negara kota tersebut cukup besar.
Maklumlah keteraturan, pelayanan kesehatan, urusan bisnis, sampai dengan belanja banyak dilakukan di negara ini. Setelah menikmati ruwetnya lalu lintas Jakarta (yang semoga akan terurai setelah adanya transportasi gabungan MRT dan Busway)
Nah bercerita tentang belanja, saya rasa supermarket OG yang terletak di penghujung Orchad Road menawarkan barang bermerek dengan harga yang lebih miring dibandingkan dengan Takashimaya, Tang Plaza, Nge Ann City dan sederet pusat perbelanjaan lainnya.
Bagi pengunjung yang sedang kepingin makan Indonesia..wuihh berjibun..tempatnya. Tetapi di gedung Lucky Plaza, lantai 3 ada tempat makan enak buat orang Indonesia yaitu tempet penyet, ayam penyet..dan semua serba penyet. Meskipun ada juga rawon. Itu kalau lagi bosen sama masakan India, Melayu, atau China.
Mengenai makanan khas Singapura, mudah ditemui di berbagai tempat dengan harga relatif terjangkau seperti Laksa Singapura yang terdiri dari bihun berdiameter besar, udang kupas besar, dan fish cake (S$5-S$14), kwetiau goreng (sekitar S$5), ayam Hainan (S$6-S$12), Mi Hokian (S$5-S$12). Tidak ketinggalan kue lobak dan rujak Singapura.
Kalau mau makanan India, ada kari (yang kuat bumbunya), roti pratha, roti canai, teh tarik, dan banyak lagi jenis makanan lain
Kalau beli oleh-oleh seperti coklat dan permen ya jelas lebih murah di Bangunan Mustafa. Tetapi kalau tidak sempat ya beli di Changi saja yang branded dan jelas lebih enak tetapi harganya lebih mahal.
Kalau parfum mah, saya cenderung beli di Airport Changi karena bisa ditenteng masuk pesawat, kuatir saja kalau masuk bagasi bisa lenyap barang itu begitu sampai di Jakarta.
Jadi kalau mau belanja di Singapura yang branded saja...kalau tidak, rugi mending belanja di Jakarta seperti Pasar Tanah Abang atau ITC Cempaka Mas untuk produk tekstil dan tas. Nah, kalau beli Louis Vuitton, Dolce Gabbana, Cartier, dan merek lain memang lebih murah harganya. Secara umum, barang elektronika dan kamera juga masih lebih murah di Glodok dibandingkan dengan Singapura.
Arus wisata
Arus kunjungan turis ke Singapura selama Maret lalu tercatat 790.000 orang atau turun 13,2% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.
Berdasarkan negara asal turis, 12 dari 15 negara yang tercatat sebagai pengunjung utama ke Singapura menunjukkan penurunan kunjungan.
Jumlah warga negara Indonesia yang selalu tercatat sebagai pengunjung terbesar ke Negeri Singa itu seperti dikutip dari Singapore Tourism Board, turun 17% menjadi 128.000 orang dibandingkan dengan kunjungan periode Maret tahun lalu.
Pada bulan sebelumnya, arus kunjungan turis ke Singapura tercatat 689.000 orang atau menurun cukup signifikan yakni 15,2% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu 811.000.
Warga negara Indonesia yang selama ini tercatat sebagai pengunjung utama ke Singapura selama Februari lalu tercatat 103.000 orang atau turun 17% dibandingkan dengan Februari 2008.
Bank Mandiri plans to raise US$480 million loan
13 tahun yang lalu



