Ayah saya ketika menyelesaikan tesis masternya di AS mengambil tema Revolusi Prancis yang menunjukkan pergolakan kekuasaan yang panjang dan tentunya meninggalkan jejak-jejak sejarah yang tak lapuk oleh berlalunya zaman. Selain itu, yang ada di benak saya Prancis adalah kiblat kota mode yang menawarkan berbagai macam keindahan desain pakaian, parfum, dan kecantikan para wanitanya.
Pada sebuah sore di pertengahan 2008, saya menginjakkan kakinya di stasiun kereta Paris setelah menempuh perjalanan selama dua jam menggunakan kereta TGV dari Luksemburg.
Sampai di stasiun saya beserta rombongan langsung berangkat ke hotel Holiday Inn yang bertarif 489 euro per malam...alamak mahalnya.
Setelah mandi, Sholat Dhuhur dan Ashar, kami beserta rombongan berjalan kaki ke Museum Arab..untuk makan malam.
Tempatnya oke untuk makan tetapi ketika saya mencari tempat Sholat tidak ada juga...ya sudah jamak lagi deh. Kok bisa ya museum Arab..tempat Sholatnya tidak ada.
Isang-iseng saya coba minum Lubna Syrup (susu Libanon) yang harganya 6,5 euro dan langsung minta ganti juice karena saya tidak tahan dengan rasa asinnya.
Malam semakin larut dan anggota rombongan berpisah, pasukan wanita (kecuali dua orang) memutuskan untuk kembali ke hotel dan tidur. Saya beserta beberapa teman ditambah memutuskan melanjutkan perjalanan ke Menara Eiffel. Luar biasa keindahan ikon bangunan dari Paris ini dan menunjukkan kehebatan teknologi ketika menara ini dibangun dengan ketinggian dan presisi yang ketat.
Kalau mau membeli suvenir bisa didapatkan dengan murah seharga 5 euro untuk 10 gantungan kunci. Tetapi kalau anda mau lebih murah lagi bisa saja beli dulu di Indonesia...ada beberapa tempat yang menjual dengan harga lokal yang lebih ramah dibandingkan dengan euro.
Sayang, sempat ada sedikit gangguan ketika berjalan-jalan di
sekitar menara Eiffel..ada beberapa anak muda yang sedang nongkrong meminta uang..one euro please..Saya jawab..No.
Ketika pulang menunggu taksi..ada rekan jurnalis dari salah satu media nasional yang sempat digoda dan beruntung beberapa teman bertindak sigap mengusir.
Keesokan paginya, perjalanan dilanjutkan dengan mengunjungi museum Louvre. Rombongan terpecah lagi, karena rekan-rekan yang tidur di malam harinya memilih ke Eiffel. Saya beserta beberapa beberapa teman akhirnya memilih ke Louvre untuk melihat lukisan Monalisa.
Pada sebuah sore di pertengahan 2008, saya menginjakkan kakinya di stasiun kereta Paris setelah menempuh perjalanan selama dua jam menggunakan kereta TGV dari Luksemburg.
Sampai di stasiun saya beserta rombongan langsung berangkat ke hotel Holiday Inn yang bertarif 489 euro per malam...alamak mahalnya.
Setelah mandi, Sholat Dhuhur dan Ashar, kami beserta rombongan berjalan kaki ke Museum Arab..untuk makan malam.
Tempatnya oke untuk makan tetapi ketika saya mencari tempat Sholat tidak ada juga...ya sudah jamak lagi deh. Kok bisa ya museum Arab..tempat Sholatnya tidak ada.
Isang-iseng saya coba minum Lubna Syrup (susu Libanon) yang harganya 6,5 euro dan langsung minta ganti juice karena saya tidak tahan dengan rasa asinnya.
Malam semakin larut dan anggota rombongan berpisah, pasukan wanita (kecuali dua orang) memutuskan untuk kembali ke hotel dan tidur. Saya beserta beberapa teman ditambah memutuskan melanjutkan perjalanan ke Menara Eiffel. Luar biasa keindahan ikon bangunan dari Paris ini dan menunjukkan kehebatan teknologi ketika menara ini dibangun dengan ketinggian dan presisi yang ketat.
Kalau mau membeli suvenir bisa didapatkan dengan murah seharga 5 euro untuk 10 gantungan kunci. Tetapi kalau anda mau lebih murah lagi bisa saja beli dulu di Indonesia...ada beberapa tempat yang menjual dengan harga lokal yang lebih ramah dibandingkan dengan euro.
Sayang, sempat ada sedikit gangguan ketika berjalan-jalan di
sekitar menara Eiffel..ada beberapa anak muda yang sedang nongkrong meminta uang..one euro please..Saya jawab..No.Ketika pulang menunggu taksi..ada rekan jurnalis dari salah satu media nasional yang sempat digoda dan beruntung beberapa teman bertindak sigap mengusir.
Keesokan paginya, perjalanan dilanjutkan dengan mengunjungi museum Louvre. Rombongan terpecah lagi, karena rekan-rekan yang tidur di malam harinya memilih ke Eiffel. Saya beserta beberapa beberapa teman akhirnya memilih ke Louvre untuk melihat lukisan Monalisa.
Sayang waktu yang sempit membuat kita memutuskan untuk tidak jadi masuk ke museum karena harus segera bertemu direksi ArcelorMittal di salah satu restoran di Paris.
Assalamualaikum, Munir..
BalasHapusApa kabar? Aku memenuhi janjiku untuk mampir ke blogmu dan sesuai permintaanmu aku akan comment di bogmu :)
Sebelumnya aku minta maaf ya bila ada yang kurang berkenan, semua niatnya baik :)
Long time no see you, secara fisik..hehehe banyak yang berubah..gendut banget :P
Makmur nih kayaknya..
Travel story yang bisa bikin aku iri, pengin juga ke tempat yang munir kunjungi..amin ( doa ku semoga Allah berkenan mengabulkan :)..kelak )
Aku tau munir pasti ingin menyajikan tulisan yang ringan, tapi sebagai mantan anggota redaksi, wlo hanya majalah kampus..kayaknya redaksionalnya perlu banyak diperhatikan..dan wlo kliatan sepele, biasakan detail mengedit tulisan sebelum tulisan itu betul2 akan di expose. ( contoh kecil saja : isang-iseng..aku yakin munir pasti ga sengaja, tapi bagi orang yang awam, akan bertanya apakah ada pengulangan itu? ) bagaimanapun seorang jurnalis perlu juga memperhatikan EYD. Akhir2 ini aku agak prihatin dengan teman2 yang lebih suka menggunakan bahasa sms tanpa peduli kaidah2 penulisan yang baku.
But so far..you're story is nice..
eh satu lagi, Munir, saranku jangan pernah menggunakan alasan tdk ada tempat untuk melaksanakan shalat tepat waktu dimanapun dirimu berkunjung..
Shalat lebih penting dari apapun dan aku tau Munir lebih paham itu daripada aku.
Thank's ya dah ngasih kesempatan aku buat nulis ini di blogmu. Masih terasa saat2 kita masih kuliah, wlo sekarang aku merasakan Munir banyak berubah. Semoga persahabatan kita langgeng, amin :)
Wassalammualaikum.